Sintesis RNA dalam Sel

Judul Topik : Sintesis RNA dalam Sel
Nama File : A1-TP4
Nama : Inggit Puspitosari
NIM : B1J006185
Kelas : A1
Email : apiek_mirza@yahoo.com
Website : http://api3kmirza.wordpress.com

RINGKASAN MATERI


RNA adalah asam nukleat. Dalam biosintesis RNA pemanjangan rantai nukleotida berlangsung dari arah 5′ ke 3′ RNA, dikatalisis oleh suatu enzim yang diberi nama RNA polimerase.
Sumber: http://library.usu.ac.id/download/fp/05005814.pdf.

Nama itu menunjukkan reaksi enzimatik yang dikatalisa menghasilkan polimerisasi RNA dari ribonukleotida. Sekuen nukleotida pada DNA merupakan template untuk membuat sekuen nukleotida pada RNA atau yang disebut dengan DNA-dependent RNA polimerase.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes.section.5790

Dalam proses transkripsi salah satu pilin dari pilinan ganda DNA mengandung satuan transkripsi yang disalin ke dalam urutan spesifik RNA. Pilinan DNA yang menjadi sumber penyalinan dinamakan cetakan (template) sedangkan pilinan komplementernya yang merupakan representasi urutan RNA yang dihasilkan dari proses menyalin disebut rantai pengkode (coding strand).
Sumber: http://ferrykarwur.18.com/materi_biosel/materi7.html

presentation2

Gambar 1. Template dependent sintesis RNA
Gambar di atas menjelaskan bahwa dalam transkripsi RNA disintesis dengan urutan dari 5′-3′, dicetakkan pada mRNa dan percetakan itu menurut rumus perpasangan basa. T pada DNA mencetak A pada RNA, A ada DNA mencetak U pada RNA, G mencetak C, dan C mencetak G. Menurut Rumus A-U dan G-C. Maka jika pada gambar utas DNA berurutan TACCCAACGCGAATTC maka yang dicetakkan pada mRNA adalah AUGGGUUGCGCUUAAG.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes.figgrp.5802

Urutan DNA sebelum satuan transkripsi disebut daerah hulu (upstream) sedangkan daerah setelah titik pengawalan disebut daerah hilir (downstream). Arah transkripsi seperti telah disebutkan sebelumya yaitu bergerak dari 5′-3′.
Sumber: http://ferrykarwur.18.com/materi_biosel/materi7.html

RNA polimerase merupakan komponen pusat dari kompleks inisiasi transkripsi. Setiap kali suatu gen ditranskrip maka ada penggabungan kompleks baru pada daerah upstream. Kompleks inisiasi disusun pada posisi yang sesuai dan tidak di sembarang tempat di genom karena lokasi target ditandai dengan sekuen nukleotida khusus yang disebut dengan promotor yang terdapat pada daerah upstream gen. Promotor pada bacteria dan eukariot memiliki perbedaan. Pada bacteria dikenal dengan promotor langsung yang dapat langsung dikenali oleh RNA polimerase, namun pada eukariot dan arachaea suatu protein intermediet yang mengikat DNA dan membentuk platform tempat RNA polimerase mengikat. Hal ini seperti ditayangkan pada gambar 2.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes.section.5790

presentation1

Gambar 2. Dua cara RNA polimerase mengikat promotor.
Gambar (A) menjelaskan bahwa RNA polimerase langsung mengenali promotornya (merah: promotor), seperti terjadi pada bacteria.
Gambar (B) menjelaskan bahwa promotor itu tidak langsung dapat dikenali oleh RNA polimerase namun ada suatu protein yang mengikat promotor berbentuk platform. Platform itulah yang akhirnya akan menjadi tempat RNA polimerase mengikat, cara ini terjadi pada eukariot dan arachaea.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes.figgrp.5804

Daftar Referensi

Brown, T. A. 2002. Genomes, Second Editions. John Wiley and Sons Inc.,New York.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes.section.5790

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes.figgrp.5802

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes.figgrp.5804

Konsumsi Oksogen pada Ikan

HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Diketahui: Vi = 25 ml = 0,025 liter
Vp = 5,436
Bi = 14,5 gram
Wp = 0,25
P1 = 3,9 ml
P2 = 3,5 ml
q = 0,025
Ditanyakan: Berapa KO2 pada ikan percobaan?
Jawab :Ota = × P1 × q × 8
=
= 7,8 mg/liter
Otak = × P2 × q × 8
=
= 7 mg/liters
KO2 =
=
= 1,196 mg/g/jam
Keterangan: V1 = Volume ikan P1 = Volume awal Na2S2O3 yang dipakai
Vp = Volume tabung P2 = Volume akhir Na2S2O3 yang dipakai
Bi = Bobot ikan q = Normalitas Na2S2O3 (0,025 N)
Wp = Lama percobaan Otak = Oksigen terlarut akhir
Ota = Oksigen terlarut awal

B. Pembahasan
Kelangsungan hidup ikan sangat ditentukan oleh kemmapuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Berkurangnya oksigen terlarut dalam perairan, tentu saja akanmempengaruhi fisiologi respirasi ikan, dan hanya ikan yang memiliki sistem respirasi yang sesuai dapat bertahan hidup (Fujaya, 2004). Menurut Ville, et. al (1988), konsumsi oksigen digunakan untuk menilai laju metabolisme ikan sebab sebagian besar energi berasal dari metabolisme aerobik. Menurut Fujaya (2004) Oksigen sebagai bahan pernapasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai metabolisme.
Oksigen yang terlarut atau tersedia bagi hewan air jauh lebih sedikit daripada hewan darat yang hidup dalam lingkungan dengan 21% oksigen (Ville, et. al, 1988). Ikan dapat hidup di dalam air dan mengkonsumsi oksigen karena ikan mempunyai insang. Insang memberikan permukaan luas yang dibasahi oleh air. Oksigen yang terlarut di dalam air akan berdifusi ke dalam sel-sel insang ke jaringan ke sebelah dalam dari badan (Kimball, 1988).
Penentukan kadar oksigen terlarut dengan suhu standar dapat dilakukan dengan metode winkler. Metode winkler menggunakan sampel air yang dimasukkan dalam erlenmeyer ditambah KOH + KI + MnSO4, masing-masing 21 tetes sampai larutan berwarna cokelat. KOH dan MnSO4 berfungsi untuk mengikat O2 sehingga terjadi endapan. Kemudian campuran larutan itu dikocok supaya homogen dan didiamkan sehingga muncul endapan. Endapan tersebut ditunggu sampai turun ke dasar erlenmeyer, setelah itu ditambahkan lagi H2SO4 sebanyak 21 tetes untuk menghilangkan endapan. Campuran tersebut dikocok sampai endapan menghilang (menjadi jernih) baru ditambahkan amilum sebanyak 11 tetes sehingga warnanya berubah menjadi biru. Amilum berfungsi sebagai indikator O2. Campuran yang berwarna biru tua tersebut dititrasi dengan Na2S2O3, sampai tidak berwarna (jernih). Banyaknya Na2S2O3 pada titrasi sampai campuran berwarna jernih dihitung, itulah yang akan digunakan untuk menghitung besarnya KO2 (Zonneveld, 1991).
Berdasarkan hasil percobaan menunjukkan konsumsi oksigen ikan nila dengan bobot badan 14,5 g adalah sebesar 1,196 mg/g/jam. Berat ikan dan volume ikan dapat berpengaruh terhadap konsumsi oksigen. Hewan akuatik konsentrasi oksigennya tidak lebih dari 1ml/100 ml air, maka untuk memenuhi kebutuhan oksigen, hewan akuatik harus menyentuhkan insangnya pada aliran air lebih banyak (Kimball, 1988).
Zonneveld (1991) menyatakan bahwa konsumsi oksigen sebanding dengan produksi panas tubuh (kkal/hari). Konsumsi oksigen berbanding lurus dengan berat dan bila dituliskan dalam rumus maka T= α.Wy dimana α dapat berbeda-beda tergantung kondisi air (dingin, sejuk, panas) dan y = 0,8. Menurut Prosser (1965) berat tubuh ikan berpengaruh terhadap konsumsi oksigen, semakin ringan berat ikan maka nilai KO2nya semakin besar.
Yuwono (2001) menyatakan bahwa konsumsi oksigen pada ikan berbanding terbalik dengan berat tubuh ikan dan volume ikan, sedangkan Jolyet dan Regnart dalam Zonneveld (1991), yang menemukan bahwa konsumsi oksigen seiring dengan peningkatan berat tubuh. Menurut Prosser dan Brown, (1961), standar nilai konsumsi oksigen untuk hewan poikiloterm dari ikan air tawar adalah 0,349 mg/g/jam pada suhu 15OC. Kecepatan konsumsi oksigen hewan poikiloterm akan naik dua kali lipat setiap kenaikan suhu sebesar 10OC.
Kebutuhan konsumsi oksigen ikan mempunyai spesifitas yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang bergantung pada kebutuhan dan keadaan metabolisme ikan. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan struktural molekul darah yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam air dan derajat kejenuhan dalam sel darah. Ketersediaan oksigen bagi ikan menentukan aktifitas ikan (Barner, 1963).
Faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen pada ikan menurut Zonneveld (1991), antara lain:
1. Aktifitas , ikan dengan aktifitas tinggi misalnya ikan yang aktif berenang akan mengkonsumsi oksigen jauh lebih banyak dari pada ikan yang tidak aktif.
2. Ukuran, Ikan dengan ukuran lebih kecil, kecepatan metabolismenya lebih tinggi daripada ikan yang berukuran besar sehingga oksigen yang dikonsumsi lebih banyak.
3. Umur, ikanyang berumur masih muda akan mengkonsumsi oksigen lebih banyak dari pada ikan yang lebih tua.
4. Temperatur, ikan yang berada pada temperatur tinggi laju metabolismenya juga tinggi sehingga konsumsi oksigen lebih banyak.
Menurut Fathuddin et al (2003), jumlah oksigen terlarut dalam air apabila hanya 1,5 mg/L maka kadar oksigennya berkurang. Konsumsi oksigen pada juvenil ikan bandengan dipengaruhi oleh jumlah kadar Zn pada air. Juvenil ikan bandeng yang terkontaminasi logam Zn sebanyak 0.01 ppm mengkonsumsi oksigen lebih tinggi dari pada ikan yang tidak terkontaminasi. Menurut Hickling (1986), oksigen terlarut apabila dalam jumlah banyak ikan-ikan memang jarang sekali mati tetapi pada keadaan tertentu hal yang demikian dapat mengakibatkan ikan mati juga, sebab dalam pembuluh darah terjadi emboli gas yang mengakibatkan tertutupnya pembuluh-pembuluh rambu tdlam daun-daun insang.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Bobot Ikan Nila yang digunakan pada percobaan adalah 14,5 gram, dengan volumenya 0,025 liter dan diperoleh jumlah konsumsi oksigennya adalah 1,196 mg/g/jam.
2. Faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen pada ikan adalah aktifitas, ukuran, umur dan temperatur.

DAFTAR REFERENSI
Barner, R. D. 1963. Invertebrata Zoologi. W. B. Saunders Company, Philadelphia.

Fathuddin, M. Iqbal Djawal dan Liestiati Fachruddin. 2003. Konsumsi Oksigen Juvenil Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskall) Terhadap Air Tercemar Seng (Zn). J. Sains dan Tekhnologi, 3 (3): 81-86.s

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka Cipta, Jakarta.

Heath, Alan. G. 1995. Water Pollution and Fish Physiology Second Edition. CRC Press Inc, New York.

Hickling, C. F. 1986. Fish Culture. Faberna Faber, London.

Kimball, J. W. 1988. Biologi Jilid II. Diterjemahkan oleh Siti Soetarmi Tjitrosomo dan Nawangsari Sugiri. Erlangga, Jakarta.

Prosser, C. L. and F. A. Brown. 1961. Comparative Animal Physiology. W. B. Saunders Company, Philadelphia and London.
Ville, C. A., W. F. Walker and R. D. Barnes. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.

Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan. Fakultas Biologi. Unsoed, Purwokerto.

Zonneveld, N. H. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Elektrocardiogram

HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Tabel hasil pengukuran denyut jantung

Kelompok Jenis kelamin Perlakuan Berat badan Denyutjantung
1 ♀ Normal 55 75
2 ♂ Merokok 48 109
3 ♂ Lari 10’ 45 121
4 ♂ Subur 89 80
5 ♀ Naik turun tangga 39 144
6 ♂ Normal 53 91
7 ♀ Subur 66 115

Perhitungan:
Denyut jantung =
=
= 121 denyut/menit

B. Pembahasan
Electrocardiogram adalah alat untuk mengukur kondisi jantung dengan bentuk gelombang potensial elektrik. Sinyal sensor dipancarkan melalui optoisolation circuit. Sedangkan power dari sensor di transfer oleh suatu transfomer. Circuitry melindungi dari tegangan yang berlebihan sampai pada 4.000 volt. Elektrocardiogram normal terdiri dari sebuah gelombang P, sebuah kompleks QRS dan sebuah gelombang T. Gelombang P disebabkan oleh arus listrik yang dibangkitkan sewaktu atrium mengalami depolarisasi sebelum kontraksi. Oleh karena itu, gelombang P dan komponen-komponen kompleks QRS adalah gelombang terpolarisasi. Gelombang T disebabkan oleh arus listrik yang dibangkiotkan sewaktu ventricel kembali dari keadaan depolarisasi. Proses ini terjadi di dalam otot sebagai suatu gelombang repolarisasi. Jadi, elektrocardiogram terdiri dari gelombang depolarisasi dan gelombang repolarisasi (Guyton, 1993).
Prinsip kerja dari ECG adalah membaca rangsangan listrik yang ada pada jantung. Dalam sekali denyut dimulai dari kontraksi atrium (sistolik atrium) diikuti oleh kontraksi ventrikel dan diastolik selama keempat ruang jantung relaksasi. Denyut jantung berasal dari konduksi jantung dan menyebar ke seluruh miokardium. Struktur yang membentuk konduksi adalah nodus sinoatriale (nodus SA), lintasan internodal atrium, nodus atroventrikel (nodus AV), berkas his, cabang-cabangnya dan sistem purkinje (Ganong, 1983).
Denyut jantung bermula di dalam nodus sinoatrial (nodus s-a) dan disebut pacemaker jantung. Laju denyaut jantung dipengaruhi faktor eksentrik yang mempengaruhi otot tersebut. Pningktan suhu, tekanan cairan dalam jantung menyebabkan penigkatan denyaut jantung neuron motor yang berasal dari pusat vosomotor dalam medula otak dan berakhir pada simpul sinoatrium. Impuls dari nodus s-a menyebar ke seluruh atrial hingga menyebabkan timbulnya kontraksi dalam sistole atrial (Starr, 1991). ssDenyut jantung rata-rata manusia normal antara 70 denyut/menit, sedangkan rata-rata denytu jantung orang dewasa dalam keadaan istirahat adalah 70 denyut/menit. Orang yang melakukan aktifitas denyut jantungnya meningkat antara 90-100 denyut/menit. Tetapi hal in dipengaruhi oleh aktifitas, berat badan dan jenis kelamin (Kay, 1998).
Menurut Adisuwirdjo (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung yaitu:
1. Aktivitas, aktivitas yanhg tinggi dapat menigkatkan frekuensi kerja jantung.
2. Ion kalsium, ion kalsium memicu sistole yaitu kontraksi salah satu ruangan jantung pada proses pengosongan ruangan tersebut. Diastole adalah reaksi dari satu ruang jantung sesaat sebelum dan selama pengisian ruangan tersebut.
3. Kadar CO2, dapat menaikkan frekensi maupun kekuatan kontraksi jantung.
4. Acetylcolin, mengurangai frekuensi jantung.
5. Adrenalin, dapat menaikkan frekuensi jantung.
6. Atropin dan nikotin, dapat mempercepat frekuensi jantung.
7. Morphin, dapaty memperlambat frekuensi jantung.
8. Suhu tubuh, semakin tinggi suhu maka frekuensi jantung juga semakin besar.
9. Berat badan, semakin berat badan seseorang maka frekuensi jantung juga semakin besar.
10. Usia, usia muda memiliki frekuensi jantung yang lebih cepat.
Jantung pada berbagai hewan dapat berkontraksi dengan sendirinya tanpa ada rangsangan dari luar. Jantung mamalia sensitif terhadap pasokan oksigen dan temperatur. Kontraksi pada jantung mammalia dimulai dari sinus node. Kontraksi menyebar cepat ke seluruh otot pada kedua atrium , beberapa saat kemudian ke otot ventrikel. Gelombang kontraksi mencapai sekat antara atrium dan ventrikel, lembar jaringan yang disebut atrioventricular bundle mengkonduksi impulse ke ventrikel yang kemudian setelah penundaan sesaat yang dihasilkan dari konduksi, berkontraksi secara simultan ( Kay, 1998 ).
Menurut Ville et al (1988) laju pompa jantung dipengaruhi oleh aktivitas dari mammalia atau manusia itu sendiri. Jantung dalam sekali denyut berlangsung secara urut yaitu kontraksi atrium (sistolik atrium) dimana secara terpisah darah kotor dari seluruh tubuh dan darah bersih dari paru-paru masuk jantung, diikuti oleh kontraksi ventrikel dimana darah kotor menuju paru-paru dan darah bersih menuju seluruh tubuh.
1. Aktivitas yang tinggi menyebabkan denyut jantung lebih cepat. Bersdasarkan hasil praktikum yang dilakukan perempuan normal dengan berat bada 55 kg adalah 75 denyut/menit, pria perokok dengan berat badan 48 kg memiliki denyut jantung 109 denyut/menit. Nikotin juga berpengaruh dalam kerja jantung, nikotin dapat memacu kerja jantung (Adisuwirdjo, 2001). Pria yang berlari selama 10’ dengan berat 45 kg memiliki denyut jantung 121 denyut/menit. Jenis kelamin dan berat badan juga mempengaruhi denyut jantung (Kay, 1998). Jenis kelamin pria akan mempunyai denyut jantung yang lebih tinggi daripada denyut jantung perempuan. Pria subur dengan berat badan 89 kg denyut jantungnya 80 denyut/menit, perempuan yang naik turun tangga dengan berat badan 39 denyut jantungnya 144, pria normal dengan berat badan 53 memiliki denyut jantung 91 denyut/menit sedangkan untuk perempuan subur dengan berat badan 66 denyut jantungnya adalah 115/menit.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang dibahas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
2. Denyut jantung/menit yang diperoleh pada perempuan normal dengan berat bada 55 kg adalah 75 denyut/menit, pria perokok dengan berat badan 48 kg memiliki denyut jantung 109 denyut/menit, pria yang berlari selama 10’ dengan berat 45 kg memiliki denyut jantung 121 denyut/menit, pria subur dengan berat badan 89 kg denyut jantungnya 80 denyut/menit, perempuan yang naik turun tangga dengan berat badan 39 denyut jantungnya 144, pria normal dengan berat badan 53 memiliki denyut jantung 91 denyut/menit sedangkan untuk perempuan subur dengan berat badan 66 denyut jantungnya adalah 115/menit.
3. Faktor yang mempengaruhi denyut jantung adalah aktivitas, ion kalsium, berat badan, kadar karbondioksida, acetylcolin, adrenalin, morphin, suhu tubuh dan lain-lain.

DAFTAR REFERENSI
Adisuwirdjo, D. 2001. Buku Ajar Dasar Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan.Unsoed, Purwokerto.
Ganong, F.F. 1983. Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku kedokteran ECG, Jakarta.
Guyton, A. C. 1993. Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta.
Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Bioscientific Publisher Springer Verlag, New York.
Ville, C. A, Walker dan W. F. Barnes, R. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.
Starr, C. 1991. Biology Concepts and Aplication. Wadworth Publishing Company Belmont, California.

Bismillahirrahmanirrahiim,

”Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik,
orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”
(Abubakar ra)

Jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu….
Ya Rabbana…..
Jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling daripada-Mu
Ya Rabbul Izzati…..
Jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu

Ya Allah…..
Bila hamba bertemu dengan seseorang
Dan hamba jatuh cinta
Izinkanlah hamba menjadi yang terbaik baginya
Dan dia yang terbaik bagi hamba

Ya Allah…..
Bila hamba menjadi pasangan seseorang
Izinkanlah diri hamba menjadi pelindung baginya
Izinkanlah diri hamba menjadi penyejuk hati baginya
Izinkanlah wajah hamba menjadi kesenangan baginya

Izinkanlah mata hamba menjadi keteduhan baginya
Izinkanlah pundak hamba menjadi tempat melepas keresahan baginya
Izinkanlah setiap perkataan hamba menjadi kesejukan baginya

Ya Allah…..
Izinkanlah setiap pelukan menjadi jalan untuk lebih mendekat kepada-Mu
Izinkanlah setiap sentuhan menjadi perekat cinta kepada-Mu
Izinkanlah setiap pertemuan menjadikan kami bersyukur kepada-Mu

Ya Allah….
Izinkanlah hati yang halus ini tidak pernah merasa tersakiti
Izinkanlah hati yang rentan ini tidak pernah merasa terkhianati

Ya Allah…..
Jiwa kami ada dalam genggaman-Mu
Maka izinkanlah jiwa kami selalu bertaut dalam cinta-Mu
Amiiin…..

Efektivitas Disinfektan dalam Membunuh Enterobacter sakazakii

Tentang Enterobacter sakazakii
E. sakazakii pertama ditemukan tahun 1958 pada kasus bayi dengan infeksi meningitis. Bakteri ini dapat menjangkit segala usia, namun resiko terbesar adalah pada usia bayi.
E. sakazakii ini ditemukan telah mengkontaminasi susu formula bayi. Di dalam susu formula tersebut ditemukan kultur positif E. sakazakii. E. sakazakii adalah kuman jenis gram negatif dari family Enterobacteriaceae. Organisme ini dikenal sebagai yellow pigmented Enterobacter cloacae. Namun, hingga saat ini belum diketahui tentang virulensi dan daya patogenitas bakteri sakazakii ini.
Berawal dari banyaknya susu formula yang terkontaminasi E. sakazakii maka banyak peneliti yang menjadikan E. sakazakii sebagai objek penelitian. Mereka menggunakan beberapa disinfektan sebagai pembunuh bakteri tersebut.
Disinfektan yang digunakan untuk membunuh E. Sakazakii
Disinfektan adalah zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Umumnya bakteri yang muda mempunyai daya tahan yang rendah terhadap disinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi dan lamanya berada di bawah pengaruh disinfektan merupakan faktor terjadinya hambatan disinfektan. Karena rumitnya menggunakan disinfektan ini maka menyebabkan banyak orang yang sulit menilai apakah disinfektan ini sesuai atau tidak.
Keefektifan disinfektan ini dapat dilihat dari seberapa besar keberhasilan disinfektan dalam membunuh bakteri tersebut. Untuk membunuh ataupun menghambat tumbuhnya E. sakazakii digunakan tiga macam disinfektan yakni sel plankton, sel yang diinokulasikan dan dikeringkan pada permukaan stainless steel, dan sel dalam biofilm pada permukaan stainless steel.
Populasi sel plankton yang ada disuspensikan ke dalam air, kemudian suspensi tersebut direkosttitusi (digabungkan) ke dalam susu formula yang diduga terkontaminasi E. sakazakii. Begitu pula pada disinfektan yang lain. Sementara itu untuk kedua macam disinfektan yang lain pada stainless steel, bila disinfektan kedua perlakuannya sel disuntikkan dan dikeringkan pada stainless steel namun disinfektan ketiga dikeringkan pada biofilm. Pada konsentrasi yang diuji sel pada biofilms mempunyai daya lebih rendah untuk membunuh bakteri sakazakii bila dibandingkan dengan disinfektan yang lain. Perumusannya adalah sel planton > sel yang diinokulasikan dan dikeringkan pada permukaan stainless steel > sel dalam biofilm pada permukaan stainless steel.
Nama: Inggit Puspitosari
NIM: B1J006185
e-mail: apiek_mirza@yahoo.com
Blog: www.api3kmirza.wordpress.com

Pustaka:

Hoikyung Kim, Jee-Hoon Ryu, and Larry R. BeuchatAppl. Envir. Microbiol. 2007 73: 1256-1265.  [Abstract] [Full Text] [PDF]